Rabu, 28 Juli 2010

Senin, 05 Juli 2010

Kunjungan KKL Mahasiswa FKIP Prodi PBSI UNIKAL ke Pusat Bahasa Jakarta

Penyerahan kenang-kenangan dari pihak pusat bahasa berupa keping CD pembelajaran berbahasa yang diterima oleh Pak Fajru selaku dosen dan pembantu dekan.

 
Penyerahan kenang-kenangan dari pihak pusat bahasa berupa buku paket atau buku pedoman berbahasa yang diterima oleh wakil mahasiswa Panji Mahesa Perdana dan selaku Presiden BEM FKIP.


Penyerahan kenang-kenangan dari pihak Unikal yang diwakilkan oleh Bu Dina Nurmalisa selaku Ka.Prodi PBSI Universitas Pekalongan.

 
Suasana mahasiswa saat mengikuti diskusi bahasa dan tanya jawab di pusat bahasa dalam rangka KKL Mahasiswa Prodi PBSI Universitas Pekalongan.


Aktifitas mahasiswa dalam mengikutu diskusi bahasa. Ada yang ngobrol sendiri, ngelamun, tidur, serta yang iseng ngerekam temennya sendiri. 

Beginilah nasib panitia properti yang makan seadanya, tempat pun seadaanya. Sebenernya ini panitia apa anak panti ya ??

Wah, senyum apa mringgis tue ?? keren juga giginya ?? hehehe ......
JUST KIDDING . . .. .

Ayo cek perlengkapan, yang gak komplit harap maju ke depan. Begitu lah ucap panitia sembari galak. Hehehe. . .

 Rapi amat barisnya ?? kayak calon TKW aja yang lagi antri sambil nunggu panggilan giliran.

Properti 2009 Universitas Pekalongan


Keunikan dan Kelucuan Dunia

Minggu, 04 Juli 2010

Kumpulan Puisi

Episode Luka
Karya : Harer Maskha

Tergeletak aku di tengah malam
Ditemani sepi yang melarut
Bercucuran air mata
Kian deras penuh sesal.

Terbaring aku disandaran gelap malam
Mencekam tiada bintang
Menindihkan tangis dera di relungku
Batin menyatu asa tak menentu
Sesal bersemayam diangan-angan.

Renungku. . .Renunganku
Membara dan menyambar tinggi
Hingga jatuh kepalaku tersungkur
Dibasahi air keringat, air mata, air ludah.
Renungku. . .Renunganku
Menjilat bokong yang berterbangan di malam
Bersayap lebar serta berkuku tajam
Mencakar wajahku.

Tergeletak aku di malam-malam dingin
Menusuk dinding sendiku hingga beku.

Terkapar aku tak berdaya di redupnya lampu temaram
Samar-samar kupandang langit
Mendung tak berawan tak terlukis
Mengisahkan sesalku yang berduka.

Renungku. . .Renunganku
Menggelitik jiwa-jiwa yang rapuh
Meleburkan saraf-saraf penuh kutu.
Renungku. . .Renunganku
Di langit tak berbintang, mendung tak berawan
Berderas air mata dan berderas.

Dan terbaring aku di pojok malam yang sunyi
Menunduk sesal berbingar
Separuh ucap tak berujung
Kini hanya luka yang berlindung.

Aku tenggelam di tengah malam
Beribu badai datang singgah menjelang
Angin barat dan selatan bersatu berlingkar dalam jiwa
Hingga terkoyak terombang-ambing
Serpih tubuh serpih terpecah terbelah
Tiada rupa tiada serasa.

Renungku. . .Renunganku
Berbicara, berbisik pelan, menyayat kulit-kulit
Perih merata sekujur tubuh yang lemas.
Renungku. . .Renunganku
Mengepul bagai roh-roh yang mematikan
Membius sukma sekar bertebar
Meracuni akal-akal yang berbunga di otak.

Terkubur aku bersama bangkaiku dan tulang belulangku
Rapat yang terpendam, senyap yang pengap
Dikandung bumi fana terbalik langit
Dihampiri sesal yang membayang
Dalam renungku dalam renunganku
Hitam, Legam tak terlihat.

Renungku. . .Renunganku
Bercermin saat hidup yang berkelana
Mengembara terpaut arah berpandang makna.
Renungku. . .Renunganku
Rasa salah yang mengedap didiri tubuh terkubur
Tak kembali semasa mulia.

Terbaring,
Tergeletak,
Tenggelam,
Terkapar,
Tersungkur aku
Dalam ketiadaan yang tak terhenti
Menabur segala jeda dalam tiada
Dan aku mati dalam renungan luka.


Pulang
Karya : Harer Maskha


Tak kan ku temui esok
Bilamana hari ini telah usai
Sekedar resah
Terujung lelah
Mengabadikan gundah.
Tak kan berhenti
Bila langkah tetap menjadi langkah
Mengembara di dunia tanpa batas
Tapi pikir tak seimbang dengan jalan
Langkah kian lemas
Bercampur pasrah.
Tak kan bersanding
Antara waktu dan tidur
Selamanya berbeda makna
Selamanya kan berpisah.
Memanggil dalam mimpi
Perlahan pergi bagai angin lalu
Melayang tinggi
Dan tak kan kembali.


Sajak Tertidur
Karya : Harer Maskha


Perlahan warna ini telah pudar
Menjadi kelabu yang setengah gelap
Bahkan hitam setengah terang.
Hingga matamu tak bisa bedakan
Mana arah dan mana jalan.

Surga jauh disana,
Tak bisa matamu menatapnya
Dengan kosong apalagi dengan bodohnya.

Surga indah disana,
Menunggu tertidurmu yang pulas
Dengkur suara dunia yang lemas
Bekal iman dan sepenuh ikhlas
Arah benar, menuju cahaya berhias